Follow by Email

Friday, December 02, 2016

Belajar Hidup dari Hidup Rasulullah saw

Judul: Belajar Hidup dari Hidup Rasulullah saw | Penulis: 'Amru Khalid | 
Penerjemah: Atik Fikri Ilyas, Yasir Muqashid, Hikmawati | 
Penerbit: Maghfirah |  Terbit: Kedua, Juni 2007| Tebal: 376 hlm | 
Bintang: 5/5


Sebaik-baiknya teladan adalah Rasulullah saw, teladan sebagai pemimpin, sebagai orang tua, sebagai suami, sebagai pengusaha, sebagai teman. Intinya, keseluruhan hidup Rasulullah saw. sangat patut untuk dijadikan teladan bagi seorang muslim. Pertanyaannya, apakah seorang muslim bersedia menjadikan segala unsur dalam diri dan proses dakwah beliau sebagai teladan hidupnya?
“Seseorang yang menyatakan cintanya kepada Rasulullah, dia harus bertanya pada dirinya; Apakah dia sering menyebut namanya? Apakah dia melakukan apa yang diperintahkan? Apakah dia mempelajari sejarahnya yang mulia? Apakah petunjuknya dapat mengalahkan pendapat dan hawa nafsumu?”
Sebelum mengenal Rasulullah saw lebih dalam, penulis mengajak untuk mengetahui apa dan kenapa seorang muslim perlu mengenal, mencintai, dan meneladani sosok Rasulullah saw. Pertanyaan-pertanyaan mendasar disuguhkan untuk dijawab dengan jujur demi mengetahui keabsahan dari cinta seorang muslim kepada Rasulullah saw.
“Muhammad adalah seorang manusia yang dipuji dari kalangan manusia, dan Ahmad  adalah orang yang paling banyak pujiannya kepada Allah. … tidak ada manusia yang lebih banyak pujiannya kepada Allah daripada Rasulullah saw” (h.15)
Kenapa kita harus mencintai Rasulullah, salah satunya, karena Beliau sangat mencintai umatnya, bahkan pada umat Islam yang belum berjumpa dengannya. “Rasulullah pernah berucap, ‘… saudara-saudaraku adalah orang-orang yang datang setelahku dan beriman walaupun mereka belum pernah melihatku. Sungguh aku sangat merindukan mereka, maka aku menangis.” (h.368) Meski belum pernah berjumpa, kelak di hari Akhir, Rasulullah saw akan mengenali umatnya dari bercahayanya wajah karena wudhu, maka inilah salah satu keutamaan dari shalat.

Kecintaan kita kepada Rasulullah memang tidak sebanding dengan para sahabat, tetapi kisah-kisah tentang kecintaan para sahabat kepada Rasulullah saw memperlihatkan betapa agungnya sosok beliau. Bahkan, kecintaan para sahabat terukir pada keinginan yang besar untuk bersanding dengan Rasulullah saw di surga. Maka, penulis memberikan beberapa faktor yang bisa menguatkan cinta kita pada Rasulullah saw, salah satunya adalah banyak membaca dan mempelajari sejarah Rasulullah supaya mengenal kehidupan, jihad, kasih sayangnya, dan segala hal yang berkaitan tentang sejarah Rasulullah (h.37)

Tak sekadar memaparkan tentang alasan dan keistimewaan mencintai Rasulullah, penulis juga mengisahkan sejarah hidup beliau, terutama perjalanan dakwah hingga kematian. Sebenarnya, kisah perjalanan Rasulullah yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan sirah nabawiyah lainnya. Tapi yang membuat buku ini berbeda adalah adanya penutup di setiap babnya yang merangkum pelajaran apa yang bisa diambil. Selain itu, dalam penuturan setiap perjalanan Rasulullah saw, penulis akan menyelipkan analisa dan pertanyaan renungan untuk memperkuat pembaca mengenal dan memahami kehidupan Rasulullah.
Pembahasan detail tentang upaya Rasulullah saw mencari suaka ke 26 kabilah (disertai penjelasan nama-nama dan penerimaan kabilah terhadap Rasulullah saw), menjadi pengetahuan baru bagi saya. Pencarian suaka ini dilakukan karena dakwahnya terhadap orang-orang Quraisy tidak membawa hasil. Proses awal sebelum hijrah, perkenalan lalu agenda pertemuan-pertemuan Rasul dengan perwakilan rombongan dari Madinah, hingga sampai di tanah Madinah juga disampaikan dengan mendetail.
“Sesungguhnya, cita-cita besar untuk memperbaiki Negara dan kondisi kita, dapat terwujud dengan cara bekerja keras dan berkorban, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi saw. lewat sentuhan tangan Rasulullah, akhirnya wajah dunia dapat berubah setelah mada duapuluh tahun. Apakah sekarang kita bisa memahami makna firman Allah swt, ‘Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alama’ (Al-Anbiya [21]:107)”
Rasulullah adalah sosok pemimpin yang membumi. Dalam berdakwah beliau tak sekadar menyampaikan tapi juga membimbing sahabat-sahabatnya untuk memberikan ilmu penunjang dakwah. Salah satu yang berkesan adalah bagaimana Rasulullah membekali delegasi-delegasinya dengan ilmu bahasa hingga membuat mereka mudah untuk menyampaikan dakwahnya. “Kekuatan memerlukan pengembangan bakat dan keahlian. Rasulullah suka sekali mempelajari  bahasa asing dan mengembangkan bakat dengan berbagai cara. Kekuatan tidak akan tercipta melainkan dilakukan oleh para pemuda cerdas yang memiliki kemampuan dan bakat.”

Sirah ini tidak hanya berkutat pada sosok Rasulullah, tapi juga terselip kisah-kisah keteguhan para sahabat dalam mempertahankan keimanan dan agamanya. Kecintaan Rasulullah saw kepada umatnya terasa sekali dalamnya, tidak ada kebencian dalam dirinya, perlindungan senantiasa diberikan dengan menepis tawaran-tawaran Malaikat Jibril untuk menghancurkan para musuh Islam. Setelah membaca kedalaman cintanya, bagaimana bisa umatnya tidak mencintai Rasulullah saw?
“Perjalanan hidup Rasulullah saw, ‘Risalah perbaikan bumi’, yakni kisah menangnya kebenaran dan kebajikan di atas kebatilan, juga upaya pembentukan kepribadian, merupakan sebuah misi yang berlangsung selama duapuluh tiga tahun, yang ditujukan kepada umat manusia seluruhnya.

Readmore → Belajar Hidup dari Hidup Rasulullah saw

Monday, November 21, 2016

Reinkarnasi

Judul: Reinkarnasi | Penulis: Sinta Yudisia | Penerbit: Lingkar Pena | Tebal: 594 hlm | Terbit: Pertama, Agustus 2009 | ISBN: 9786028436182 | Bintang: 4/5


“Jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah, jangan memusatkan pikiran sebelum jiwamu tenang. Karena bisa jadi orang-orang terdekatmu akan menjadi korban indra ketujuhmu.” (Sentot – h.156)
Memiliki indra ketujuh bukan kekuatan yang awalnya ingin dimiliki oleh Age. Terkadang muncul ketakutan dalam dirinya saat kekuatan tersebut muncul. Bayangan masa depan membuat hidupnya dipenuhi tanda-tanya, ada apa dengan dirinya. Age, pemuda miskin yang tinggal bersama Ibu dan adiknya, Sani. Kemiskinan tidak membuatnya kehilangan kepercayaan-dirian dan surut dengan perjuangan hidup. Age menjadi pemulung atau kerja serabutan untuk membantu Ibunya dan membiayai sekolahnya. “Ia merasa perkasa dengan menjadi pemulung yang hanya mengantongi dua ribu tiap kali berangkat sekolah.” (h.37)
 
Namun, kehadiran Sentot menerbitkan rasa penasaran Age dengan kekuatan dalam dirinya. Sentot yang mengerti tentang kekuatan indra ketujuh berusaha merayu Age untuk ikut dalam bisnisnya. Pekerjaan yang mengandalkan indranya ini tanpa disadarinya semakin menjerumuskannya pada sebuah kekuatan yang memiliki latar belakang mengerikan. Sisi hatinya yang ‘putih’ kerap tidak merestui apa yang dilakukannya. Kebingungan semakin mendera benak Age yang memiliki nama lengkap, Ragil Mulyo.
“Aku tidak pernah minta punya kekuatan seperti ini.” “Orang seringkali merasa lebih pintar dari Tuhan, menganggap Tuhan salah menjalankan tandir-Nya.” (h. 179) “Kamu bukan Tuhan, Age. … Kamu melihat masa depan dan masa lalu, tak berdaya karena tak mampu mengubah semua takdir buruk yang terjadi, tapi Dia Maha Bijaksana untuk menuntun manusia ke arah cahaya-Nya. Maka, Biarkan kekuatan itu menjadi milik-Nya, karena manusia tak akan mampu menahan takut melihat dahsyatnya masa depan.”
Di sisi lain, kisah Ayna yang kakaknya, Wanda, mengalami kegilaan setelah kejatuhan lampu sorot saat menjadi finalis Bintang Indonesia. Perlakuan Wanda yang kasar kepada Age, menimbulkan prasangka bahwa Age, dengan kekuatannya, menjadi penyebab penyakit kejiwaan Wanda. Kemunculan Firda, gadis albino yang memiliki kemampuan mata hati, semakin memperkeruh keadaan.
“Kenyataannya alam gaib itu ada. … Tapi ia berbeda dengan kita, tak perlu kita bersinggungan karena tak ada manfaatnya. Cukuplah kita meyakininya sesuai ajaran Al-Qur’an.” (h. 181)
Plot semakin rumit saat masa lalu Age terkuak, dimana kelahirannya menyimpan ‘perjanjian’ sang ibu dengan jin. “Tujuh dari tujuh. Galuh Anom sendiri putri ketujuh, suaminya putra ketujuh. Anak yang lahir dari rahimnya kelak menempati urutan ketujuh. Keistimewaan yang menakjubkan, apalgi jika anak itu adalah seorang laki-laki! Galun Anom tak sanggup menolak kesempatan yang akan membuat dunianya berubah.” (h.265)
 
Ki Gede, seorang pembuat keris mumpuni, yang insaf dan sedang menjalani pengobatan di pesantren Ust.  Burhan. Pertemuannya dengan Age memberinya firasat pada seorang legenda Jawa dan kekuatan besar dari keris Indrajid. Perdebatan mulai muncul antara Ki Gede dan Ust. Burhan tentang Age. Kekuatan yang dimiliki Age setelah berhasil melepas keris Indrajid dari sarungnya dapat menjadi petaka.
“Bayang sejarah Singosari berkelebat. …Sosok Ken Arok yang tak terkalahkan usai menyatu dengan keris Mpu Gandring di tangannya. … Dibutuhkan beberapa generasi dan korban-korban yang menghentikan laju kekejaman keris Mpu Gandring.” (h. 454)
Kalau saya tidak salah, novel Reinkarnasi adalah pengembangan dari novel Kekuatan Ketu7uh yang pernah diterbitkan Beranda Hikmah pada Oktober 2004. Meski begitu, saya sudah lupa sebagian besar cerita novel Kekuatan ketu7uh, sehingga saat membaca novel ini alur novel tetap tidak tertebak, beberapa kali kecele saat tebakan klise yang saya pikiran melenceng. Memperlihatkan kepiawaian penulis dalam merangkai alur dan plot cerita. 

Saya juga suka melihat riset penulis terkait kekuatan indra ketujuh terkait budaya jawa, candi/situs dan seluk beluk keris. Selain itu, penulis menciptakan karakter-karakter yang dipenuhi dengan keabu-abuan, tidak ada yang baik dan buruk. Semua selayaknya manusia yang memiliki dua sisi sifat yang berlawanan.
Readmore → Reinkarnasi

Saturday, November 05, 2016

Ibu, Istri, dan Anak Saleha

Penulis: Nurul Asmayani
Penyunting: Tree
Penerbit: Qultum Media
Terbit: Pertama, September 2016
Tebal: viii + 204 hlm
Harga: Rp. 59.000 (Diskon di Toko Buku Online)
Bintang: 3.5/5


“Ya Allah… Doa pada-Mu laksana ruang terapi bagi kegalauan hati kami. Luapan atas ketidakberdayaan atas kegagalan rencana-rencana kami. Doa adalah cara-Mu membuat kami berhenti, menyepi, dan menekuri. Doa adalah cara-Mu mengajari bahwa di balik segala kegagalan dan kesalahan kami, masih ada harapan karena Engkau selalu menyertai.” (Pembuka)

Doa pastilah kata yang sangat familiar di telinga kita. Tapi, apakah kata tersebut sudah dipahami sebagai sesuatu yang layak untuk dilakukan terus-menerus? Bukan hanya di kala susah melanda. Doa (beserta dzikrullah) adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki keutamaan tersendiri. Doa merupakan kebutuhan manusia yang berisi untaian kalimat positif demi mendapat ‘tanggapan’ dari Sang Pengabul. Doa adalah sebentuk harapan di kala seluruh harapan telah musnah.
 
Ketika ujian hadir, doa jugalah yang menjadi jurus manusia untuk menghadapinya. Salah satu kisah berjudul Lapis-Lapis Kesabaran memperlihatkan bagaimana kesabaran menghadapi ujian penyakit dalam yang muncul berturut-turut, ternyata tidak menyurutkan seorang ibu untuk terus berdoa di samping putranya sepanjang masa penyembuhan. Penutup kisah pun lebih mengejutkan karena kesabaran sang ibu dan suami telah ditempa jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi.
 
“Betapa dahsyatnya kekuatan doa. Oleh karena itu, memintalah. Memintalah hanya kepada-Nya …Tiada yang sulit bagi-Nya, tiada yang mustahil dalam pandangan-Nya.” (h. 36)

Setan selalu menggoda manusia dari arah depan, belakang, kanan dan kiri, tapi ada dua arah yang tidak mampu ditembus oleh setan, yaitu atas dan bawah. Arah bawah adalah kematian, di mana manusia jika mengingatnya akan selalu menjauhi dari perkara dosa. Sedangkan, arah atas adalah Zikir dan doa kepada Allah swt, arah yang membuat setan tak berdaya. Kemampuan manusia menghalau setan ini menjadi salah satu pembahasan terkandung dalam bab Di Balik Doamu.
 
Fokus buku ini sebenarnya pada pembahasan doa dan pembeda dengan buku setema lainnya, adalah adanya pembahasan tentang keistimewaan doa dari para perempuan, sebagai ibu, istri dan anak sholeha. Sekali lagi, sebuah kisah mengena di hati, berjudul Allah Sebaik-Baik Pembuat Rencana mengisahkan seorang dokter yang akan menghadiri sebuah seminar dalam waktu yang mendesak. Perjalanannya tidak mulus, tapi menggiringnya pada sebuah tempat dan memperlihatkan ketulusan doa seorang Ibu.
 
Sebagai ibu, istri dan anak saleha, perempuan adalah makhluk yang memiliki perasaan dengan kedalaman hati yang sering melampaui kaum pria. Terurai dalam bab Doamu Duhai Muslimah, pembahasan tentang ber-husnudhan kepada Allah. Merenungi doa-doa yang mungkin belum juga terkabul meski sudah merasa mati-matian melantunkannya di setiap waktu. Salah satu bisa jadi karena Allah ingin menguji iman kita. Dia ingin melihat manakah orang yang sejati imannya dan murni cintanya. (h.113)
 
 “Disinilah juga letak keistimewaan doa seorang perempuan. Doa perempuan lebih makbul daripada doa laki-laki karena perasaannya yang lebih kuat dari laki-laki. Ketika ditanyakan kepada Rasulullah saw tentang hal tersebut, beliau menjawab, “Ibu lebih penyayang dari bapak dan doa orang yang penyayang tidak ada sia-sia.” (h. 8)

Tidak terlalu berteori dan lebih banyak menyelipkan kisah berhikmah, membuat buku ini tidak membosankan dan monoton. Tampilannya juga cantik, seperti tema bukunya yang pasti akan membuat cantik setiap hati yang membaca dan merenunginya. “Ya Allah … Kemurahan dan kemuliaan-Mu semakin nyata dalam doa. Semakin kami meminta, semakin Engkau cinta. Bahkan, sering pemberian-Mu lebih dari yang mampu kami duga.”
Readmore → Ibu, Istri, dan Anak Saleha

Monday, October 31, 2016

Hadiah Cinta dari Istanbul

Judul: Hadiah Cinta dari Istanbul
Penulis: Fairuz Abadi
Penyunting: Sayyidah Murtafiah Djauhar
Penerbit: HalamanMoeka
Terbit: Mei, 2015
Tebal: 593 halaman
Bintang: 3.5/5



“Sebuah kisah, dihadirkan tak lain untuk menyampaikan hikmah, nasihat, peringatan, dan pelajaran bagi para pembacanya. Namun ia akan berfungsi dengan semestinya bisa siapa saja yang membacanya mau berpikir.” (Prakata)

Tidak dipungkiri lagi bahwa novel Hadiah dari Istanbul sarat dengan hikmah dan ilmu. Kisah Azhar ini mengangkat sejarah Turki dan renungan tentang kehidupan/rumah tangga di sepanjang alur ceritanya. Novel diawali dengan kata pengantar yang sangat menarik buat saya, terutama pembahasan tentang bangsa At-Turk dan pemahaman tentang penaklukan Konstantinopel Barat dan Timur berdasarkan hadist dan pendapat para ulama.
 
Berawal dari impian Azhar yang terwujud, yaitu keinginan untuk mengunjungi Istanbul, salah satu kota di negeri muslim Eropa yang telah menghias lembar-lembar sejarah dengan goresan pena bertinta emas. (h.39) Sebuah tawaran yang diterimanya dari sebuah perusahaan furnitur yang sering dia isi kajiannya, menghendakinya untuk memimpin jama’ah Umrah sekaligus berwisata ke Turki. Keberangkatan yang akan menggiringnya pada sebuah takdir yang penuh kejutan.
 
Sepanjang perjalanan Azhar ke Istanbul inilah, alur dipenuhi dengan sejarah bangsa Turki dan Dinasti Utsmaniyah dengan segala kejayaan, konflik, perebutan kekuasaan yang menjadi salah satu penyebab kemundurannya. “Sejarah kaum Utsmani adalah sebuah lembaran penuh berkah di masa Islam dan satu bagian yang sangat memesona dalam peradaban manusia. Mereka memiliki sifat ketinggian dalam sejarah dunia. Mereka berjihad dan bersungguh-sungguh dalam jihadnya. Mereka banyak melakukan kebaikan, meski juga berbuat kesalahan. Akan tetapi, mereka telah memberikan kebanggaan dan kemuliaan bagi umat.” (Dr. Muhammad Hard – h.75)
 
Di sisi lain, ada kisah Selma, gadis yang menjadi salah satu korban pengeboman di Suria hingga seluruh keluarganya meninggal. Pada alur ini penulis tidak mengaitkan langsung kisahnya dengan Azhar. Sepertinya penulis hanya ingin memperlihatkan keteguhan imannya menghadapi ujian hidup. Kaitan Azhar nantinya dengan keluarga Mr. Mehmet yang menolong Selma. Pertemuan dengan Mr. Mehmet berawal di Mesjid Suleymaniye dan menciptakan keakraban karena pengetahuan Azhar yang sangat luas tentang Sejarah Turki. Mr. Mehmet kagum dengan Azhar karena beliau juga sangat mencintai sejarah.
 
Pada awal-awal kisah bisa dibilang alur ceritanya tenggelam karena banyaknya sejarah yang disampaikan dalam cerita, ada kesan tersendat-sendat. Alur cerita mulai berjalan lancar ketika Keluarga Mr. Mehmet sudah berdomisili di Jakarta. Konflik mulai terasa ketika Azhar melamar Anisah, sedang di saat yang sama keluarga Mr. Mehmet ingin mengajukan Fatma untuk menjadi istrinya. Dilema semakin terasa karena Anisah dan Fatma adalah sahabat dekat, bahkan sekamar kos. Sebuah kondisi yang membuat Fatma harus mati-matian mengendalikan hatinya.
 
“Perang batin memang jauh lebih dahsyat untuk menciptakan suasana remuk redam. …. Sebab medan pertempuran terjadi di dalam hati, di dalam jiwa, di dalam rasa, juga di dalam pikiran. Pada akhirnya perang itu meluluhlantakkan apa saja yang ada dalam diri seseorang, Sebab ia sedang berperang sendirian. Musuhnya adalah dirinya, sedang lawan musuhnya juga dirinya.” (h.293)

Anisah yang akhirnya mengetahui hati Fatma yang remuk, tidak sampai hati meninggalkan begitu saja. Jika Fatma berusaha meredam kesedihannya, Anisah mencari-cari solusi untuk menyelesaikan kondisi tak menyenangkan ini. Proses panjang pencarian Anisah dipenuhi pertimbangan dan shalat-shalat panjang, memohon pertolongan Sang Penguasa Alam untuk menemukan keputusan, hingga dipilihnya jawaban yang kontroversial, Poligami.
 
Konflik tak berhenti di sana, setelah pernikahan, Azhar, Anisah, Fatma, harus menata hati karena sudah pasti tak mudah menjalani pernikahan dengan tiga kepala. Selain itu, ujian juga datang dari usaha jamur tiram yang dijebak Kasmaji karena tidak suka tersaingi. Proses pengambilan keputusan hampir semua tokohnya selalu dilakukan dengan mengkaji ayat alQur’an, hadist dan kisah para sahabat nabi, dari sinilah novel ini memberikan banyak ilmu dan hikmah. Tak sekadar mengantarkan sebuah cerita, tapi juga pemikiran-pemikiran yang berlandaskan ke-Islam-an.
Readmore → Hadiah Cinta dari Istanbul

Monday, October 24, 2016

Reclaim Your Heart

Judul: Rebut Kembali Hatimu
Judul Asli: Reclaim Your Heart
Penulis: Yasmin Mogahed
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 297 hlm
Harga: Rp. 55.000 (Diskon di Toko Buku Online)
Bintang: 5/5


“Begitulah jika kita hidup di dunya dengan hati kita. Menghancurkan kita. Itulah kenapa dunya ini menyakitkan. Karena definisi dunya, sebagai sesuatu yang sementara dan tidak sempurna, bertentangan dengan segala sesuatu yang diciptakan untuk kita dambakan.” (h.22)

Keterikatan adalah judul bab yang mengawali kumpulan tulisan Yasmin Mogahed dalam Reclaim Your Heart. Apa yang membuat manusia seringkali bersedih, menderita, kehilangan? Sebagian besar, bahkan hampir semua, disebabkan oleh keterikatan dengan dunia. Dunia yang sebenarnya hanyalah sarana seringkali dijadikan tujuan bagi manusia, sedangkan dunya tidaklah pernah sempurna dan seringkali berujung pada kekecewaan.

“Perjuangan untuk membebaskan hati kita dari semua keterikatan palsu, perjuangan untuk mengosongkan bejana hati kita, adalah perjuangan terbesar dalam kehidupan di dunia ini. Perjuangan itulah inti dari tauhid (monoteisme sejati). (h.48)

Pada beberapa tulisan, penulis menekankan bahwa keterikatan manusia dengan dunia tidak hanya berlaku dengan harta, jabatan atau segala yang tampak nyata, tetapi juga hubungan atau keterikatan hati dengan makhluk. “Tauhid berarti Keesaan tujuan, ketakutan, ibadah, cinta yang tertinggi untuk Allah. Itu berarti keesaan visi dan fokus. Itu berarti mengarahkan pandangan kita pada satu titik tunggal, yang memungkinkan segala hal lainnya meluruh ke tempat masing-masing.” (h.61)

Cinta dan Penderitaan menjadi tema tulisan selanjutnya yang disampaikan penulis. “Melihat yang Sejati mengubah cara kita mencintai. … Jika hatimu diperbudak oleh sesuatu yang terlarang baginya, salah satu akibat dari situasi menyedihkan ini adalah berpaling dari Allah.” (h.108) Disadari atau tidak, rasa cinta kepada pasangan, anak, orangtua, atau makhluk lainnya seringkali mengalahkan kecintaan kepada Sang Pencipta. Rasa cinta fana yang dapat memberikan penderitaan karena dibarengi dengan harapan untuk menjadikannya yang terbaik, padahal semua itu sesuatu yang mustahil.

Salah satu tulisan yang membekas bagi saya, berjudul Disakiti oleh Orang Lain. Sebuah pertanyaan muncul, “Bagaimana kita bisa hidup di dunia yang begitu cacat, tempat orang-orang mengecewakan kita, dan bahkan keluarga kita dapat menghancurkan diri kita?” karena dunia ini tidak sempurna, dunia yang sering menjadi kebanggaan ternyata menyembunyikan pisau yang dapat melukai tanpa kita perkirakan.

Potensi manusia untuk melakukan kejahatan keji terhadap satu sama lain merupakan kebenaran yang menyedihkan tentang hidup ini. Namun, kemampuan untuk mudah memaafkan harus didorong oleh kesadaran akan kekurangan dan kesalahan kita sendiri terhadap orang lain, karena kita juga makhluk yang berpotensi melakukan kekejian pada orang lain. Menghadirkan kerendahan hati bahwa kita juga sering melakukan kesalahan kepada Allah setiap hari dalam hidup kita.

“Kadang-kadang kita gagal mengenali hubungan langsung antara penderitaan di dalam hidup kita dan hubungan kita dengan Allah. … Penderitaan sulit menguji iman, ketabahan, dan kekuatan kita. Kemalangan melucuti topeng kita, mengungkap kebenaran di balik pernyataan keimanan belaka. Kesukaran memisahkan pernyataan keimanan yang tulus atau yang semu. (h.153)

Hubungan dengan Sang Pencipta adalah bab yang lebih banyak berbicara tentang ibadah kita yang merupakan sarana terkuat manusia untuk menjalin hubungan dengan Allah SWT. Shalat, Puasa, Doa dan lainnya yang kerap dilakukan sekadar pemenuhan kewajiban, sekadar gerak tubuh, bukan lagi kebutuhan atas perlindungan dari keburukan dunia. “Dengan meninggalkan shalat, manusia telah menanggalkan baju zirah dari Allah, dan memasuki medan pertempuran tanpa perlindungan.” (h.180) Sedangkan, jebakan setan yang bagian-bagiannya menjadi penguji keimanan, muncul hampir setiap detik dalam kehidupan manusia.

“Saat ini feminisme Barat menghapus Allah dari gambaran besar, tidak ada standar yang tersisa--- selain standar kaum laki-laki. Dengan demikian, ia telah menerima asumsi yang keliru. Ia telah menerima bahwa kaum lelaki adalah standar acuan, dan dengan demikian seorang perempuan tidak pernah bisa menjadi manusia yang utuh sampai ia menjadi sama seperti laki-laki.” (h.222)

Apa yang selalu digaungkan oleh pemikiran feminis, adalah kesetaraan gender, dan itu selalu mengarah pada persamaan yang menjadikan lelaki sebagai acuannya. Sedangkan, perempuan memiliki keunggulannya sendiri, perasaan, kelembutan dan keindahan di dalam kekhasan diri yang dianugerahi oleh Allah. Realitas inilah, yang disinggung pada bab Status Perempuan. Perbedaan yang seharusnya menjadi anugerah, tergeser oleh paham-paham yang mencoba mengaburkan keberkahan.
Sedangkan di sisi lain, perempuan seringkali menjadi bahan eksploitasi dan pajangan untuk memuaskan pandangan lelaki, realitas yang dibalut kebohongan sebagai suatu kebebasan dan kesuksesan perempuan.

“Aku adalah ‘budak’, tetapi kau mengajarkan bahwa aku bebas. Aku menjadi obyekmu, tetapi kau bersumpah bahwa itu adalah kesuksesan. Karena kau mengajariku bahwa tujuan hidupku adalah untuk dipamerkan, untuk menarik, dan menjadi cantik bagi kaum lelaki. Kau telah membuatku percaya bahwa tubuhku diciptakan untuk memasarkan mobilmu. Tapi, kau BOHONG. … Kau mengerti, sebagai perempuan muslim, aku telah dibebaskan dari perbudakan terselubung. Aku tidak tunduk kepada pada hamba Tuhan di bumi. Aku tunduk kepada Raja mereka.” (Surat Terbuka kepada Budaya yang Telah Membesarkanku – h.228)

Saat menuliskan ulasan buku ini rasanya ingin menuangkan semua kutipan, yang bisa berarti seluruh isi buku. Banyak kalimat yang dapat kita simpan dan kembali direkam ketika kondisi iman sedang menurun. Banyak hal dalam buku ini yang bisa dijadikan renungan untuk kembali merebut hati kita dari keterikatan dunia dan kecintaan makhluk yang melalaikan.

“… hanya ada satu buhul tali yang amat kuat dan tidak ada putus. Hanya ada satu tempat kita bisa bergantung. Hanya ada satu hubungan yang menentukan nilai-nilai kita dan hanya satu sumber bagi kita untuk mencapai kebahagiaan, kepuasan, dan keselamatan tertinggi. Satu tempat itu adalah Allah.” (h.21)

Readmore → Reclaim Your Heart
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design