Follow by Email

Saturday, August 19, 2017

[Cerita Buku] Cinta yang Membawaku Pulang

#CeritaBuku #CintayangMembawakuPulang


Salah satu novel @penerbitindiva yang sudah jadi incaran karena baca-baca ulasannya di Goodreads memancing rasa penasaran. Begitu ada even #IndivaBookFair, novel #AgungFAziz menjadi salah satu pilihan dari empat buku lainnya ...

Semoga kisahnya sesuai ekspektasi 😄😄 #NowReading #NovelIslami
Readmore → [Cerita Buku] Cinta yang Membawaku Pulang

Wednesday, August 16, 2017

Sunnah Sedirham Surga


“Ilmu bagi Guru seakan penghias bagi sesuatu yang lebih tinggi nilainya: Adab. … Pada seorang guru yang sebenar berilmu, akan kau reguk Adab yang tak disediakan oleh buku-buku. (Ibn ‘Athaillah As-Sakandary)” ~ h.124

Ilmu penting, tapi adab tak kalah penting. Seorang yang berilmu bisa menjadi sombong jika tidak dibarengi adab yang menjadi pelembut ilmu. Masalahnya, ‘pelajaran’ adab tidak selalu terpenuhi dari kitab atau buku. Dibutuhkan figur yang ‘memperlihatkan’ kesantunan meski dalam hal keilmuan tak perlu diragukan. Perlu bersosialisasi dan merenungi kehidupan tanpa henti supaya kebijaksanaan dapat hadir seiring dengan bertambahnya ilmu dan usia.

Tak ada sesuatu yang dapat diraih dengan cara instan. Sunnah Sedirham Surga ingin memperlihatkan betapa indahnya adab yang dimiliki Rasulullah, Sahabat, Tabiin dan para alim ulama. Pembaca bisa membaca dan melihat bagaimana sebuah adab di atas keilmuan bisa menciptakan kedamaian dan kesantunan yang melingkupi perbedaan.

Menurut saya, buku ini salah satu wacana yang coba mengkritisi, atau sindiran halus, tentang kondisi masyarakat, khususnya muslim, yang mudah tersulut perbedaan pendapat. Perkara yang sering muncul adalah ketika satu sudut pandang yang kita peroleh, lalu ditahbiskan sebagai tolok ukur kebenaran, hingga kemudian segala yang masih serupa tapi tak sama pun dihukumi berbeda dan menyimpang. (Sepeminum Kopi)

“Yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri. Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain.”

Kumpulan tulisan Ust. Salim A Fillah dibagi menjadi empat bab, yang hampir kesemuanya menuturkan tentang bagaimana para alim ulama bersikap dalam keseharian terutama terkait dengan perbedaan pemikiran yang tidak menghalangi rasa tepo seliro satu sama lain, sikap yang juga memperlihatkan bagaimana adab dalam berilmu. Memperlihatkan bagaimana para ulama yang memiliki kesetiaan pada keshahihah ilmu sejalan dengan keteguhan mereka mencintai umat dan perdamaian.

Bergaya bahasa yang lembut nan santun, Ust. Salim menuliskan buah pikirannya dengan pesan yang dalam. Dimulai dari bab Teladan Salaf untuk Para Mukallaf, seperti judulnya kumpulan tulisan banyak berhikmah dari para salafush shalih. Begitupun dengan bab selanjutnya, Belajar Bajik dari Ulama Klasik. Kedua bab ini sekaligus memberikan potongan-potongan sejarah Islam di masa silam.

Bab ketiga, Oratoria Para Kesatria terasa lebih tegas dengan tulisan yang bertemakan kepemimpinan dan menyentil kekuasaan. Bab ini diakhiri dengan kisah tentang Malcolm X sebagai sosok dengan perjalanan kehidupan hitam tapi berujung pada keislaman yang indah. ‘Dan Sesungguhnya amal-amal itu ditentukan oleh penutupnya.’ (H.R Ahmad)

Tak luput dibahas para alim ulama nusantara dalam bab Belantara Cendekia Nusantara, tentang ‘polah’ luwes mereka dalam menanggapi perbedaan tanpa menggunakan kata kasar, apalagi kekerasan. Seperti kisah dua ulama yang berbeda keyakinan tentang bedhug dan kenthongan bisa mengkondisikan sekitar ketika mereka saling bersilaturahmi.

“Meksi, jika kita sangat yakin bahwa pendapat kita yang benar, dalam kesantunan akhlaq selalu ada cara untuk mengamalkannya tanpa menyinggung hati sesama” ~ h.252

Sunnah Sedirham Surga | Salim A Fillah | Pro U Media | 2017; 268 hlm | 5/5 bintang

Readmore → Sunnah Sedirham Surga

Saturday, August 12, 2017

[Kutipan Buku] Sunnah Sedirham Surga

#KutipanBuku#SunnahSedirhamSurga (74/265)
"Apabila manusia menghindar darimu
di saat engkau berada dalam derita,
maka ketahuilah bahwa Allah menghendaki,
agar Dia sendiri yang menangani urusanmu.
Dan cukuplah Allah sebagai sebaik Dzat yang Diserahi" ~ Imam Asy Syafi'i


Readmore → [Kutipan Buku] Sunnah Sedirham Surga

Saturday, December 17, 2016

Think Dinar!

Judul: Think Dinar! | Penulis: Endy J. Kurniawan | Editor: Asma Nadia | Penerbit: AsmaNadia Publishing | Terbit: Ketujuh, Juni 2012 | Tebal: xxii + 298 hlm | Bintang: 4/5


“Nilai Dinar tetap sama semenjak masa Rasulullah Saw. Hingga kini, Dinar tetap mampu membeli seekor kambing.”
Percaya? Kita tahu bahwa harga kambing selalu naik setiap tahunnya, tapi selalu bisa terbayar dengan 1 Dinar. Selama ini yang banyak dikenal adalah mata uang kertas yang SELALU mengalami inflasi. Contoh sederhana, dulu uang 100 bisa membeli 3 permen, saat ini 100 sudah seperti tidak ada harganya, bahkan sering digantikan permen sebiji oleh perusahaan market.
 
Awalan buku ini diisi dengan pentingnya seorang muslim kaya, bukan sekadar kaya hati tetapi juga kaya harta. Pemikiran tentang zuhud yang menjadi teladan dari Rasulullah saw., bukan berarti membuat umat muslim malas untuk mencari harta karena zuhudnya masa Rasulullah, bukan dalam arti miskin, tetapi mereka memiliki kebebasan finansial. Umat muslim perlu kembali memformat pengertian dari kaya secara finansial.
“Negara kita terikat banyak hal dengan IMF, termasuk diantaranya tidak mengijinkan untuk mengkaitkan nilai tukar Rupiah dengan emas. … pelarangan ini jelas-jelas merugikan negara-negara berkembang yang memiliki sumber emas tersendiri dalam jumlah besar seperti Indonesia. (h.117)
Sistem kapitalis sudah lama menjerat umat muslim dan sering menyebabkan masalah, wacana dalam buku ini sedikit banyak akan mencerahkan kepala tentang alasan di baliknya. Inflasi adalah masalah keuangan yang dapat menyebabkan tabungan dalam bentuk mata uang kertas memiliki potensi mengecil, bahkan hilang. Maka, perlu adanya simpanan ke dalam asset riil yang nilainya terjaga atau naik, yakni asset yang nilainya tetap terhadap komoditas lainnya, seperti berinvestasi dalam bentuk emas/dinar. Nilai emas/dinar sendiri kemungkinan besar memiliki tren kenaikan, terutama jika dijadikan simpanan tahunan.
 
Sebenarnya, ada beberapa aset yang menguntungkan, seperti tanah atau rumah, tapi memilikinya membutuhkan modal besar, sedangkan untuk mendapatkan emas bisa dilakukan dengan nilai di bawah sejuta. Maka dari itu, adalah bahasan dalam buku ini yang mengangkat tema bahwa mempunyai emas tidak harus menunggu kaya. Dinar pun dapat dikumpulkan dulu dalam bentuk dirham/perak supaya meringankan pemilik asset.
“Hakikat uang dalam pemahaman Islam, adalah sama antara nilai intrinsic dengan nilai ekstrinsiknya. Ini yang disebut mata uang yang ‘adil’ yang dimiliki Dinar dan Dirham.” (h.96)
Contoh kasus adanya nilai intrinsik dan ekstrinsik yang adil adalah saat mata uang kertas disobek menjadi dua dan satu bagian dibuang, uang tersebut sudah tidak lagi bernilai, sedangkan untuk emas/dinar, ketika dibagi menjadi beberapa bagianpun tetap akan memiliki nilai jual. Hal inilah yang membuat emas/dinar lebih bernilai uang dibandingkan media yang saat ini banyak kita jumpai.
 
Dalam buku ini juga dipahamkan tentang alasan-alasan lain bagaimana nilai emas/dinar akan menjadi jaminan/asuransi yang bermanfaat dan tidak akan tergoyahkan saat inflasi terus menjajah pasar atau ekonomi suatu negara. Selain itu, buku ini juga banyak bertutur tentang ekonomi Islam yang lebih adil dalam memposisikan keuangan dan uang. Sebuah sistem yang menjadikan kesejahteraan sebagai milik bersama, bukan hanya milik mereka berduit.
“Dalam bukunya Ihya Ulumuddin, sang Imam mengungkapkan bahwa Allah menciptakan emas dan perak sebagai ‘hakim’ yang adil dalam memberikan nilai atau harga. … Artinya, Al-Ghazali percaya bahwa memang Allah menciptakan emas dan perak sebagai alat tukar yang adil dalam transaksi.” (h.245)

Readmore → Think Dinar!

Friday, December 09, 2016

Khadijah, Mahadaya Cinta

Judul: Khadijah, Mahadaya Cinta | Penulis: Fatih Zam | Editor : Sukini | Penerbit: Tinta Medina | Terbit: April 2011 | Tebal: 240 hlm | Bintang: 2/5



“Itulah tujuan akhir cinta, Laila. Menciptakan keharmonisan dan keseimbangan. Semua menuju pada apa yang diinginkan Tuhan. Kedamaian.” (Perempuan Renta ~ h.87)
Pemandangan senja menjadi pembuka kisah. Senja yang tergambar melalui mata tua yang menikmati keindahan semburat tenggelamnya sang matahari. Laila dan sesosok Perempuan Tua yang tak diketahui asal-usulnya ini, berbicara banyak hal tentang kehidupan sembari menyelami senja di lantai atas rumah. Laila yang sudah tak memiliki ayah-ibu dan saudara menganggap si Perempuan Renta ini adalah satu-satunya keluarga.
“Senja itu indah, tapi durasinya singkat. Malam itu pekat, tapi durasinya lebih lama ketimbang senja. Hidup itu indah, tapi sementara. Kematian adalah pemutus kenikmatan dan waktunya lebih lama.” (h.46)
Hingga suatu saat perbincangan mereka beralih pada masalah cinta. Laila berjumpa dengan seorang pemuda, penjual dan pengrajin tembikar, Nahar. Karakter Nahar dalam berdagang tergambar dengan teladan Rasulullah saw, terutama pada kejujurannya. Laila terkesan dan hati Nahar pun tergoda melihat seorang gadis cantik di depan kedai tembikarnya. Cinta bersambut, keduanya menyerap cinta dengan perasaan dan ketakutan masing-masing. Seperti, perbedaan status si kaya dan di miskin menjadi pemikiran Laila dan Nahar.
“Serasi? Apakah serasi mesti selamanya sama, Laila?”
Saat lamaran diajukan Nahar, Laila memiliki syarat. Syarat, sebuah kata yang selalu mengitari kehidupan Nahar akhir-akhir ini, dan membuatnya bertanya-tanya, ada apa dengan syarat. Kenapa selalu ada syarat dalam kehidupannya. Pemikiran yang kemudian menggiringnya pada sebuah keyakinan, “Nahar sampai ke kesimpulan paling mendasar dalam hidup, bahwa miskin dan kaya, sehat dan sakit, tinggi dan pendek, jelita dan buruk rupa adalah syarat dari Tuhan. Karena muaranya sama, mencapai tiang takwa yang menjadi jembatan menuju surga.” (h.122)
 
Syarat Laila, lamaran Nahar diterima jika dia bersedia datang ke rumahnya, setiap senja, dan mendengarkan Perempuan Renta menuturkan kisahnya. Sayangnya, menurut saya, pelaksanaan syarat tersebut tidak tergambar dengan baik, saya tidak terlalu menangkap bagaimana Nahar dan Laila berinteraksi dengan si Perempuan Renta. Bahkan, awalnya, saya kurang menangkap bahwa kisah Cinta Khadijah dan Rasulullah saw sebenarnya dituturkan melalui Perempuan Renta. Saya berpikir alur berjalan sendiri-sendiri, seperti pada serial Muhammad dari Tasaro Gk, tapi menyimpan makna yang saling mempengaruhi.
“Iman mesti bercokol di hati, maka lisan dan anggota badan akan seirama. Dia akan dibutakan oleh iman. Iman sanggup membutakan, Laila. Kebutaan yang pasti diingini semua orang.” (h. 103)
Selipan kisah romantis antara Bunda Khadijah dan Rasulullah saw sendiri tidak ada yang baru, lebih berfungsi sebagai ‘penekan’ makna cinta dalam kisah Laila dan Nahar. Sebuah cinta yang sarat dengan memberi, “… yang lebih dinantikan olehnya (Khadijah) adalah manakala dirinya menjadi tempat berkesah bagi suaminya. Meredakan lelah dan kesah seorang kekasih adalah hal paling istimewa ketimbang bermanja-manja. Karena dengan itu, kehadirannya benar-benar berharga.” (h. 141)
 
Novel ini dipenuhi dengan perenungan dengan gaya bahasa yang puitis. Tentang cinta, kehidupan, dan pengorbanan. Banyaknya perenungan inilah, yang membuat saya sendiri kurang merasakan kemulusan susunan alur dan plot dalam cerita, terkadang ada kesan meloncat-loncat dalam kisahnya. Satu lagi, hingga akhir cerita, misteri siapa sebenarnya sosok Perempuan Renta juga tidak terjawab.
“Takwa adalah nama lain dari termampunya manusia memenuhi dan melewati sarat dari Tuhan. Takwa adalah medali atau tiket bagi manusia yang sudah berhasil melaksanakan syarat dari Tuhan. Tiket takwa itulah yang akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang posisinya dekat dengan Tuhan. … Yang terpenting, mereka bisa memenuhi syarat yang telah digariskan Tuhan dalam hidupnya.” (h. 123)

Readmore → Khadijah, Mahadaya Cinta
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design