Follow by Email

Monday, May 28, 2012

Rose + Pengumuman Pemenang Giveaways - April 2012


"Tuhan ternyata tidak pernah melupakan doa-doa. Bahkan ketika manusia sudah melupakan apa yang pernah dimintanya" [h. 295]
Hidup adalah ujian, dan ujian adalah bukti nyata kecintaan Sang Khaliq untuk hamba-Nya karena dari sana-lah Dia menempa rasa syukur, sabar, ikhlas, bijaksana, dan segala sifat positif lainnya. Dari sana pula-lah kualitas seorang hamba terlihat. Ujian bertubi-tubi yang menimpa keluarga Bu Kusuma sangat menguras kesabaran dan kekuatan untuk melangkahi setiap onak duri. Hidup dalam keluarga yang ‘minus’ sosok pria terasa ada yang kosong, apalagi jika yang ‘hilang’ adalah figur Ayah. Bu Kusuma dan keempat putrinya merasakan kekosongan tersebut saat sosok suami/ayah meninggal. Dahlia, Cempaka, Mawar, dan Melati, harus menjadi yatim di usia yang masih muda.

Awal membaca saya tidak menangkap bahwa tokoh utamanya adalah Mawar, mengingat judulnya adalah Rose. Keuletan dan obsesi Dahlia, si sulung, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pembayaran utang yang menumpuk menjadi sosok yang dominan. Bu Kusuma yang telah berumur dan memiliki penyakit wasir tidak lagi dapat diharapkan menjadi tulang punggung keluarga. Totalitas Dahlia bekerja demi keluarga membuat Mawar dan Melati prihatin. Cempaka sendiri tidak ambil pusing dengan keadaan keluarganya. Kematian sang Ayah membuat Cempaka kehilangan pegangan dan membuatnya meremehkan siapapun yang berusaha ‘menggantikan’ beliau.

Karakter Mawar yang dididik layaknya pria oleh sang Ayah, membuatnya seperti memang ‘dipersiapkan’ untuk menjadi penopang dan pelindung keluarga. Kemauan kuat tersebut muncul ketika musibah menimpa Cempaka; dan barulah Mawar terlihat sebagai tokoh utama. Hamil di luar nikah yang terjadi pada Cempaka dan utang-utang yang mulai ditagih, menjadi ujian untuk keutuhan empat bersaudara ini. Cek cok dan perselisihan yang sering mewarnai hubungan Mawar dengan Cempaka terus berlanjut setelah Cempaka melahirkan bahkan sampai si anak beranjak besar. Ujian terus muncul, dibarengi dilema dan upaya pencapaian titik keimanan. Tidak selesai di situ, ujian masih terus mengelilingi kehidupan keluarga Bu Kusuma.

Saya sangat suka gaya penceritaan dalam bentuk diary, karena menurut saya gaya tersebut bisa membuat pembaca mengenal sang tokoh dengan lebih natural, dari cara bertutur, dari gaya penulisan, dari susunan kalimat yang menjadi simbol luapan isi hati. Pada awal-awal cerita ada penggambaran perasaan masing-masing anak yang disampaikan dalam bentuk diary. Sayangnya, ketika membaca diary dari keempat tokoh perempuan di sini, saya seperti tidak melihat perbedaan satu sama lain, gayanya hampir sama semua. Padahal poin penulisan dengan gaya diary akan menjadi salah satu keunggulan dalam cerita, apalagi jika diary-diary tersebut konsisten dilakukan hingga akhir cerita.

Meski begitu, tetap jempol untuk penulis karena sejak membaca bukunya yang berjudul Kekuatan Ke7ujuh, saya menyukai gaya bercerita Sinta Yudisia yang sangat natural dan terlihat para tokoh begitu mengalir mengikuti alur yang 'ditakdirkan' oleh penulis. Karakter yang begitu membumi membuat tak ada kesan dipaksakan harus menjadi begini dan begitu. Terselip juga, nilai-nilai entrepreneur menjadi nilai tambahan yang dapat dipetik pembaca dalam perjalanan Mawar dan Melati. Dan yang pasti, lewat novel Rose, pembaca diajak merenung, bahwa segala ujung dari pencarian dan kegelisahan seorang manusia, adalah tuhannya, Allah Swt.

Judul: Rose
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Mastris Radyamas
Penerbit: Afra Novela [Lini Indiva Media Kreasi]
Cetak: Pertama, Rabiul Awal 1433 H/Januari 2012
Tebal: 320 hlm
Bintang: ***

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::

***

PENGUMUMAN PEMENANG GIVEAWAYS - APRIL 2012
ROSE by SINTA YUDISIA
INDIVA MEDIA KREASI


Salam Buku!

Alhamdulillah, selesai juga giveaways ed. April 2012. Banyaknya peserta cukup mengejutkan, sama sekali tidak menyangka bakalan seramai ini dan pencarian pemenang lumayan bikin kepala pusing karena komentar yang diberikan menarik-menarik. Jadi, penilaian didasarkan dari:
  1. Kelengkapan dan keabsahan pengisian kotak rafflecoster. Poin ini wajib karena banyak peserta yang gugur di penilaian pertama ini.
  2. Komentar yang cukup detail menggambarkan tentang apa yang tergambar di pikiran saat mendengar/membaca kata 'Rose'
Setelah menilai dan memilah, akhirnya diputuskan untuk pemenang giveaways ed. April 2012, adalah

Chi Yennesy Damayanti
Rose: Cantik. Kecantikan yang berbalut keanggunan, Ia kuat.
Seperti bunga mawar yang mampu melindungi diri dengan durinya. Harum, membuat orang terpesona. Jika Rose dilukiskan dengan wanita, yang teringat adalah seorang Lady. Lady yang memiliki keanggunan. Hidup dengan ketegaran. Dia disukai banyak orang. Rose juga bunga kesukaanku, terutama White Rose.
Rose, entah mengapa menurutku layak disebut "ibu" bunga karena ia tegar laksana Ibu.

Putri Utama
Rose??? Yang paling saya ingat justru seorang teman yang dipanggil Ros. Dia seperti menjadi "anak buangan" dalam keluarganya. Bila saudara sekandungnya pulang pergi kuliah naik mobil pribadi, dia naik angkot. Dikampus, secapek apapun kuliah + praktikum dia nggak pernah jajan, beli minum, ataupun makan siang. Padahal kuliah sejak pagi jam 7.30 WIB hingga sore bahkan jelang Magrib.

Rose yang kedua, karena saya baru selesai membaca Sunset Bersama Rosie, saya justru teringat pada sosok Rosie dalam buku itu.

Aneh memang... tapi yah begitulah saya... :)
Silakan para pemenang mengirimkan data lengkap [nama, alamat lengkap dan no HP] ke email sinthionk@gmail.com. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak ada kabar, maka pemenang dianggap gugur dan digantikan oleh nominasi selanjutnya.

Bagi yang belum beruntung, masih banyak kesempatan karena saya akan sering mengadakan giveaways setiap bulannya. Saya ucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman yang sudah berpartisipasi karena membuat giveaways ini semakin seru dengan keikutsertaan kalian.

Giveaways ed. Mei 2012 dapat dilihat di http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2012/05/giveaways-mei-2012-lonely-hearts-club.html
Readmore → Rose + Pengumuman Pemenang Giveaways - April 2012

Sunday, May 20, 2012

Tarapuccino


Meski sebagai penikmat kopi, saya tidak terlalu paham dengan nama berbagai jenis kopi. Saat membaca judul Tarapuccino, saya bertanya-tanya jenis kopi apa yang dimaksud. Pencarian di google pun tidak menuai hasil karena yang muncul, sebagian besar resensi buku terbitan Indiva ini. Parahnya, hingga separuh buku tuntas, saya masih belum mengerti, kopi jenis apa Tarapuccino ini. Mungkin karena terlalu fokus dengan konflik dan plot, saya baru ‘ngeh’, “Oiya, nama tokoh perempuannya kan Tara, apa dari sana ngambilnya?” dan itupun masih dalam taraf menebak-nebak. Jadi, monggo kesediaan penulisnya untuk memperjelas.
 

Cerita dibuka dengan aksi ilegal Diaz dan bagian ini berhasil menggenjot rasa penasaran saya. Kemudian, setting berpindah pada sebuah toko kue yang dirintis oleh Tara dan sepupunya, Raffi. Bakery yang bernama Bread Time ini, merupakan salah satu toko kue yang ternama di Kota Batam. Nah, di sini penulis memberikan ide yang menarik berkenaan dengan lokasi dan manajemen toko yang bernafaskan islam. Layak untuk diterapkan pada dunia nyata.
 

Konflik dimulai ketika Bread Time memutuskan hubungan dengan Calvin & Co, pemasok bahan baku produksi, dikarenakan produk mereka mengandung bahan yang diharamkan. Idealisme dan keteguhan para pemilik toko untuk menjaga kehalalan serta mempertahankan kualitas makanan, ternyata berbuntut panjang. Teror mulai bermunculan dan sosok Hazel, desain grafis baru Bread Time, mulai dipertanyakan.
 

Aksi illegal Diaz ternyata mengantarkan pembaca pada masa lalu kelam mahasiswa drop out yang harus menanggung utang Sang Ayah tersebut. Kematian ayah Diaz juga menyisakan tanda tanya besar tentang keberadaan Ibu kandungnya, yang sayangnya oleh penulis tidak dituntaskan dan tetap menjadi misteri hingga cerita berakhir. Tanggung jawab semakin besar karena harus membiayai hidup ibu tiri dan 3 saudara tirinya yang masih bersekolah. Maka, halal dan haram pun menjadi perang batin dan terus mengusik hati Diaz.
 

Konflik cinta pun tak luput jadi sasaran ‘tembak’ penulis. Tara, Raffi, dan Hazel terlibat cinta segitiga. Tapi menurutku kisah cinta ketiga tokoh ini tidak terlalu banyak dimunculkan, karena penulis lebih menonjolkan sisi misteri dalam alur cerita, dan untuk seleraku itu lebih ‘nikmat’. Kunci misteri itu sendiri sebenarnya, telah diselipkan penulis di bab-bab awal dengan cukup halus. Saya berhasil menangkap kunci tersebut dan sudah menebak akan ke mana cerita ini berlanjut. Meski begitu, penulis berhasil menciptakan suasana tegang dan menyelipkan pengetahuan tentang kode bahan makanan, internet dan Ilegal trading, sehingga saya pun bertahan membaca Tarapuccino sampai tuntas.
 

Saya agak bingung dengan pengaturan alurnya, apakah maju? Atau maju-mundur? Jika alurnya maju, kebingungan saya dimulai pada bagian di mana Hazel diterima sebagai karyawan Bread Time, yang terjadi lebih dulu dibandingkan saat Tara menyadari berita tentang kualitas bahan baku dari Calvin & Co. Apakah memang Calvin & Co sudah menyangka akan ada pemutusan kerjasama dari Bread Time sehingga mengirimkan Hazel sebagai mata-mata? Atau Hazel kebetulan mengikuti wawancara kerja ke Bread Time dan kemudian dimanfaatkan oleh Calvin & Co? Bagian yang mengganjal juga terjadi di bagian akhir cerita. Ada tanda tanya besar tentang hilangnya Diaz saat kecelakaan, yang ajaibnya di bab terakhir muncul kembali sebagai pengusaha.
 

Penampilan buku Tarapuccino, dengan ukuran yang di luar standar dan desain sampul yang bernuansa cokelat, terlihat menawan. Jempol untuk desainer sampulnya.
 

Judul: Tarapuccino
Penulis: Riawani Elyta & Rika Y. Sari
Editor: Saptorini
Penerbit: Afra Publishing
Cetak: Pertama, Oktober 2009/ Dzulqa'dah 1431 H
Tebal: 248 hlm
Bintang: ***

 :: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Tarapuccino

Tuesday, May 15, 2012

Katastrofa Cinta


Sangat pelik dan padat konflik. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku garapan Afifah Afra ini. Sejak awal membaca, saya sudah disuguhi dua alur yang membuatku terus bertanya-tanya, apa hubungan kedua cerita ini yang terlihat seperti tidak ada hubungannya. Pertanyaan itu terus muncul dan baru terjawab di ujung cerita, benar-benar di ujung halaman akhir. Untungnya, penulis berhasil 'memelihara' rasa penasaran saya hingga menamatkan cerita.

Pada era penjajahan Belanda, sekitar tahun 40-an, cerita bermula, bertuturkan tentang sejarah kakek buyut dan kelahiran Astuti yang berlatarkan adat Jawa. Konflik antar suami-istri, obsesi seorang ibu, dan Islam vs budaya Jawa, menjadi permasalahan yang sepanjang membacanya membuat saya bertanya, “kenapa sejarah hidup Astuti harus diceritakan jauh sejak sebelum dia lahir?”

Di sisi lain, ada kisah kehidupan Cempaka/Mei Hwa, sebagai anak keturunan TiongHoa. Sejak kecil Cempaka hidup dalam keluarga berada yang dipenuhi kasih sayang, tiba-tiba harus musnah akibat tragedi ’98 yang menyisipkan trauma bagi warga TiongHoa. Ketidak-sanggupan Cempaka menerima kenyataan, membuatnya mengalami gangguan mental dan menciptakan kebencian yang begitu besar pada Firdaus.

Tidak berbeda jauh dengan nasib Astuti. Ketika penjajah Jepang datang ke Indonesia, petaka hidup Astuti datang bertubi-tubi. Pada episode kehidupan Astuti kali ini pun dipenuhi dengan kedukaan, mulai dari kematian keluarga, pelecehan seksual, pelarian ke Jepang, hingga harus mengais uang dengan caranya yang mengenaskan di negeri Matahari Terbit.

Saat kembali ke Indonesia, karakter Astuti menjadi liar akibat tempaan hidup, hingga mengantarnya pada ideologi komunis. Perkenalannya dengan kelompok berlambangkan palu dan sabit menjadikannya seorang Gerwani, meski saat itu Kakeknya adalah ulama yang sedang giat melawan arus komunis. Dan kembali kita dihidangkan sekelumit sejarah bangsa Indonesia oleh penulis.

Digarap dengan alur cerita maju mundur, baik kisah Astuti maupun Cempaka, menurut saya tidak membuat bingung. Selain itu, saya yang cenderung kesulitan jika berhadapan dengan buku yang memiliki banyak tokoh, kali ini tidak terlalu kesulitan mengingat semua nama yang berseliweran, salah satu bukti bahwa penulis berhasil membuat karakter tokoh yang membekas di kepala saya.

Namun ada beberapa yang mengganjal kepala saya sepanjang membaca Katastrofa Cinta. Bayangkan, bagaimana ketika konflik yang begitu banyak, digarap dengan alur yang cepat, sudah pasti akan tertangkap kesan terburu-buru. Ya, saya merasa beberapa bagian cerita, terutama kisah Astuti, seperti ‘sekedar lewat’hingga terlihat bagian tersebut tidak tergali dengan baik. Semisal, ketika Astuti dijebloskan ke Pulau Buru. Saya tidak terlalu menangkap gambaran bagaimana kondisi Pulau Buru dan kehidupan Astuti di sana.

Satu lagi yang agak mengganjal kepala saya adalah masalah pendalaman karakter tokoh. Kemampuan penulis untuk memaparkan masa lalu yang kemudian mempengaruhi karakter tokoh sangat mumpuni, tapi ketika teknik tersebut kemudian diterapkan hampir ke semua tokoh, termasuk figuran, rasanya jadi terkesan bertele-tele, seperti yang terjadi tokoh Sujarwanto.

Terlepas dari semua itu, Katastrofa Cinta tergolong novel lintas zaman yang layak dibaca. Mungkin dibutuhkan riset lebih mendalam lagi untuk menggali bagian-bagian cerita yang masih terasa ‘sekadar lewat’. Bisa jadi kelak jika dilakukan revisi, kisah yang berlatarkan sejarah tahun 40 - 90-an akan menjadi lebih tebal. Tapi, tak masalah menurut saya, jika kemudian, lamanya membaca akan terbayar dengan berbobotnya  wacana sejarah yang disajikan dengan cara yang lentur sehingga menyenangkan untuk dibaca.

Judul: Katastrofa Cinta
Penulis: Afifah Afra
Editor: Taufan E. Prast
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, 2008
Tebal: 270 hlm
Bintang: ****

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke Dagang Buku yuk! ::
Readmore → Katastrofa Cinta

Thursday, May 10, 2012

Risalah Menuju Jannah

 
Jujur, saya agak speechless mereview buku ini. Bingung karena hampir semua isinya ingin saya tuangkan dalam review. Rasanya ingin sekali saya membagikan semua isi tulisan dalam buku ini. Tapi gak mungkin kan? Bisa gempor jari saya. Buku berjudul Risalah Menuju Jannah ini, terbit cukup lama, sekitar Juni 2009. Nama Ihsan Tandjung-lah yang menggelitik saya untuk turut memesannya dengan harga yang terbilang murah. Nama Ihsan Tandjung saya kenal lewat ceramah beliau berjudul Zionisme Internasional yang saat itu menjadi tema yang sedang kugandrungi.

Risalah Menuju Jannah merupakan kumpulan tulisan yang sebagian sudah pernah muncul di website eramuslim.com. Penulis yang sampai sekarang masih aktif mengisi blog bolehjadikiamatsudahdekat.com ini, menyampaikan hal-hal krusial, yang dibaginya menjadi 4 tema besar yaitu dakwah, hari akhir, amal ibadah, dan ghozwul fikri [ideologi].

Pada bab awal penulis menyoroti tentang pentingnya mengajak atau berdakwah tidak hanya kepada sesama muslim tapi juga di luar muslim dengan cara yang benar tanpa paksaan. Ada satu artikel berjudul ‘Jangan Remehkan Ucapan Anda’ pada bab ini yang bagus menurutku, dimana poin yang saya dapatkan adalah kita tidak pernah menyangka, bahwa bisa jadi sebuah ajakan sederhana untuk bertaqwa kepada-Nya bisa menjadi membuka hidayah bagi orang lain.

Pada bab selanjutnya, tema sentral adalah mengimani akhir zaman, dan pentingnya memahami setiap pertanda akan datangnya kiamat. Sebuah zaman dimana setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban, masa dimana sebenar-benar kehidupan bagi manusia. Sebuah tulisan yang berjudul sama dengan blog penulis, ‘Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat’, memberikan gambaran besar posisi zaman kita saat ini, dimana kita sebenarnya telah berada pada babak keempat, dimana sering disebut dengan nama The Darkest Ages of The Islamic History.

“Memang sudah sepantasnya kita umat Islam yang hidup di zaman ini menghayati bahwa hari Kiamat sudah dekat. Mengapa? Karena bila kita ingat bahwa Nabi Muhammad saw. merupakan penutup rangkaian nabi-nabi Allah Swt, berarti kita merupakan penutup berbagai umat. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita Umat Akhir Zaman. Dan berdasarkan hadis Ringkasan Perjalan Sejarah Umat Islam, kita dewasa ini sedang menjalani kehidupan di babak keempat dari lima babak yang bakal dilalui umat Islam hingga menjelang dekatnya kedatangan hari Kiamat” [h. 136]

Bab III adalah menyinggung tantang amalan atau ibadah yang akan menjadi bekal kelak menuju Alam Barzah. Membaca bab ini membuat saya sedikit tertegun dan diingatkan kembali dengan amalan yang mungkin terlihat/terdengar sepele, seperti menjawab/mendengar azan; atau membaca doa sebelum tidur; atau tanpa sadar ternyata bisa jadi selama ini setan ikut mabit bersama. Astagfirullahil’adhim

Memasuki bab IV, tema yang diangkat lebih ‘berat’ tapi menjadi landasan utama seorang muslim, yaitu ideology/keyakinan. Penulis secara singkat mengkritisi sistem demokrasi, mengingatkan tentang zaman penuh fitnah yang sudah banyak betebaran, bahkan tentang kenapa Amrozi Cs bisa disebut sebagai syuhada, tanpa memungkiri ketidaksetujuan penulis atas tindakan bom mereka.

Penulis yang juga bertindak  sebagai salah satu dewan redaksi eramuslim.com ini menuliskan pemikirannya dengan kalimat sederhana dan tidak berbelit-belit, serta dibarengi hadist/ayat yang memperkuat isinya. Meski beberapa ayat/hadist sering disebutkan berulangkali di tulisan yang berbeda, hal itu tidak menimbulkan kesan monoton, karena pilihan dalil yang diambilnya benar-benar tepat sasaran sehingga efeknya lebih memperkuat apa yang disampaikan.


Judul: Risalah Menuju Jannah
Penulis: Ihsan Tandjung
Editor: Taufan E. Prast
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Pertama, Juni 2009
Tebal: 350 hlm
Bintang: *****

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Risalah Menuju Jannah

Friday, May 04, 2012

Bersama Tarbiyah, Ukhti Tunaikan Amanah


Bertutur tentang tarbiyah, sebenarnya saya sendiripun sedang belajar mentarbiyah diri. Keakhwatan #1 karya Ust. Cahyadi, dkk ini adalah hadiah dari suami, sekaligus sindiran karena saya lebih banyak berkutat dengan buku berjenis fiksi. Lumayan lama buku ini mendekam di rak, baru bulan kemarin akhirnya saya tergerak untuk menceburkan diri ke dalamnya. Meski sedikit terlambat, Alhamdulillah, ternyata tidak salah hadiah yang dipilih si Abi.

Sebagai seorang muslimah, apalagi telah menjadi seorang istri/ibu, penting utuk senantiasa mentarbiyah diri. Tidak hanya sekadar untuk membentuk pribadi menjadi solehah, tetapi juga menciptakan pemikiran yang berlandaskan Islam.

“Kegiatan tarbiyah merupakan sebuah proses yang bermaksud menghantarkan pelakunya menuju kepada sebuah ‘kesempurnaan’ dalam batas kemanusiaan, yaitu usaha-usaha perbaikan diri dan umat untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Para akhawat muslimah adalah bagian dari masyarakat, sebagaimana juga laki-laki, yang harus dipersiapkan segala peran kebaikannya dalam sebuah proses tarbiyah” [h. 6]

Buku yang digarap empat orang penulis ini mampu menyampaikan tentang pentingnya tarbiyah bagi seorang muslimah secara gamblang. Sempat terpikir bahwa isi buku ini pastilah berat, sehingga saya pun menunda membacanya dalam jangka waktu yang cukup lama. Ternyata, saya salah, karena materi yang dipaparkan penulis sangat mudah dicerna oleh kepala. Materinya pun terbilang lengkap dan membahas berbagai kewajiban muslimah, mulai terhadap diri sendiri, keluarga, anak, suami, hingga masyarakat.

Buku ini layak untuk dijadikan bekal dan referensi sepanjang hidup, bahkan pantas untuk dibaca berulang kali mengingat kelabilan keimanan manusia. Pemaparan tentang pentingnya dan alasan dasar kenapa setiap muslimah wajib untuk tarbiyah, yang terletak di bab awal, sedikit banyak menjadi motivasi dan alasan kuat bagi saya untuk menuntaskan isi buku ini. Sekaligus, meyakinkan saya untuk terus menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi. Aamiiin!

Wallahu’alam bisshowwab


Judul: Keakhwatan #1, Bersama Tarbiyah Ukhti Muslimah Tunaikan Amanah
Penulis: Cahyadi Takariawan, dkk
Editor: Wahid Ahmadi & Darsim Ermaya Imam Fajarudin
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Cetak: Pertama, Februari 2010/Safar 1431 H
Tebal: xxii + 250 hlm
Bintang: ****

Seri Keakhwatan Lainnya:
Keakhwatan 2; Keakhwatan 3; Keakhwatan 4

:: ingin buku seken/murah bermutu? mampir ke FB Parcel Buku yuk! ::
Readmore → Bersama Tarbiyah, Ukhti Tunaikan Amanah
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design