Follow by Email

Thursday, April 28, 2016

Dari Puncak Bagdad

Penulis: Tamim Ansary
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Zaman
Cetak: Kedua, 2010
Tebal: 588 hlm
ISBN: 978-979-024-194-7
Harga: Rp. 85.000 (Diskon di Toko Buku Online)
Bintang: 4/5


“Sejarah selalu berulang. Hanya waktu dan ruang saja yang berbeda. Sejarah selalu kembali terjadi. Hanya peristiwa dan lakon saja yang berganti. Dan seharusnya, pengalaman memberikan kita pelajaran yang berguna. Bagaimana seharusnya menghadapi musibah. Bagaimana selayaknya menerima anugerah.”

Kutipan di atas saya ambil dari Buku The Secret for Muslim oleh Herry Nurdi. Rasanya pas dengan sebagian kejadian sejarah dalam buku Dari Puncak Bagdad yang menuturkan perkembangan Islam sejak masa Rasulullah hingga saat ini, saat di mana muslim sudah semakin asing dengan keislamannya.

Tidak diragukan lagi, masa Rasulullah adalah era generasi emas yang menerapkan nilai ketaqwaan di atas segalanya. Masa dimana Rasulullah menjadi sosok nyata untuk diteladani dari segala tempaan ujian kejahilan yang merajalela. Pasca meninggalnya Rasulullah, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib menjadi khalifah berturut-turut diiringi konflik/pemberontakan dari kaum yang tidak sepaham.

Sengketa dalam tubuh islam semakin menguat setelah masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kondisi yang berlanjut dengan ‘menaikkan’ Bani Ummayah menjadi pemimpin. Menurut penulis, setelah kematian Ali bin Abi Thalib, kekhalifahan hanyalah sebuah kekaisaran dengan sistem kepemimpinan berdasarkan keturunan. Tradisi ini juga berlanjut saat puncak kepemimpinan dipegang Bani Abbasiyah.

Kestabilan dalam pemerintahan Negara Islam sudah mulai terkikis dengan banyaknya perebutan kekuasaan dan pemberontakan. Intervensi dari luar Tanah Arab pun menjadi penyebab keroposnya kesatuan dari kaum muslimin, mulai dari bumerang pembentukan korp Turki hingga masuknya bangsa Eropa.

Perang Salib yang dianggap sebagai bentrokan besar, pada masa itu, antara kaum muslim dan Kristen, dianggap menjadi awal mula ketertarikan bangsa Eropa pada Timur Tengah dan Asia. Dampak lain dari kedatangan Bangsa Eropa adalah munculnya kolonialisme dan taktik intervensi pada pemerintahan ‘Islam’, untuk mengeruk hasil kesuburan dan kekayaan alam Dunia Tengah.

Saat membaca sejarah intervensi Eropa inilah, saya seperti melihat realita negeri sendiri. Penulis menyampaikan dengan terperinci bagaimana bangsa-bangsa Eropa kala itu mendekati, ‘berteman’ dan kemudian mencengkeram suatu wilayah. Bahkan, bangsa eropa satu, akan memperalat penguasa muslim, untuk menyingkirkan bangsa eropa lain yang ingin mendekati.

Masuknya peradaban eropa juga mempengaruhi ideologi dan memunculkan modernis dalam pemikiran Islam. ‘Penyesuaian’ muncul dari beberapa pemikir, baik yang masih dalam batasan Islam sampai yang melenceng/keblinger. Kemudian, paham-paham semakin banyak bermunculan, kapitalis, sosialis, nasionalis, sampai fundamentalis, yang tak jarang masing-masing menciptakan percikan/benturan yang memperkeruh keadaan.

Dari Puncak Bagdad memberikan gambaran dasar tentang sejarah perkembangan Islam yang cabang-cabangnya bisa dicari melalui referensi lainnya. Menurut saya, penulis berusaha obyektif menyampaikan sejarah meski beliau pernah tinggal dan hidup di Negeri Islam, Afghanistan. Meski begitu, ada selipan-selipan pendapat dari penulis, yang menjadikan buku sedikit terasa subyektif.
 
Readmore → Dari Puncak Bagdad

Monday, April 18, 2016

The Secret for Muslim

Judul: The Secret for Muslim
Penulis: Herry Nurdi
Editor: Taufan E. Prast
Penerbit: Lingkar Pena
Cetak: Kedua, Juli 2008
Tebal: 280 hlm
ISBN: 9791367345
Harga: -
Bintang:  5/5


Saat ini sebagian besar umat Islam tidak lagi memaknai dirinya sebagai muslim. Kekayaan, ketenaran, syahwat, dan kekuasaan menjadi berhala. Keteguhan jati diri islam semakin surut tergantikan banjir pemikiran dan budaya asing tanpa penyaring. Generasi muda pun seperti tak memiliki pondasi keimanan sehingga kehilangan pijakan. Dunia menjadi raja dalam pikiran dan hati manusia.

"Sekarang masalahnya adalah, sering manusia lupa bahwa sesungguhnya hidup ini adalah untuk mati. .... Manusia tak ada bedanya dengan laron-laron di musim hujan yang keluar dari tanah dan mengejar cahaya. Kian dekat dunia digapai, kian besar bahaya dituai," (h. 13)

Herry Nurdi menyentil kondisi umat tersebut melalui kumpulan tulisannya pada buku The Secret of Muslim. Isi buku terbagi menjadi lima bab yang kesemuanya berisikan renungan tentang pandangan manusia, atas dirinya, kekuasaan, kesadaran, manusia lain, dan akhir dari kehidupan.  Banyak bagian yang saya tandai dalam buku ini seperti tulisan ataupun kutipan pengingat yang mencerahkan. Poin yang memungkinkan buku untuk dibaca berulang kali di saat sedang lemah iman. 

Meski sebagian besar tulisan memiliki tema yang sudah sering dibahas, gaya tutur penulis yang hemat kata dan tepat sasaran, lebih mudah saya serap. Salah satu yang berkesan adalah tulisan berjudul Bangsawan Ilmu, yang mempertanyakan, "Apakah kita hanya akan berpuas hati/kagum memiliki teman yang berilmu, atau menjadikan diri kita berilmu?"

"Tujuan ilmu, sama sekali bukan hanya tentang kenikmatan intelektual. Tujuan ilmu, bukan pula mencari puncak pencapaian. Tapi, untuk memperbaiki kualitas hidup, amal dan menjernihkan pandangan, serta arah kehidupan." (h. 33)

The Secret of Muslim menyalurkan semangat untuk menjadi muslim sejati, tanpa takut dipandang beda, tanpa takut dikucilkan. "Jangan pernah berkecil hati pada sebutan-sebutan yang menghinakan ... Di mana pun kita berada, Muslim selalu punya konsep yang sama. Satu dalam kebenaran, satu dalam kebaikan, satu dalam keikhlasan." (h. 52) 

Secara garis besar tulisan-tulisan The Secret of Muslim ini mengajak pembaca merenungi bagaimana cara berpikir, menata, dan mengendalikannya, serta memperlihatkan besarnya peran ilmu untuk mengenali apa yang terjadi di sekitar kita. Dan akhirnya, mempersembahkan kesemuanya itu untuk tujuan yang berdasar atas cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah saw.

"Maka ya Allah, jadikan cinta kami kepada-Mu sebagai satu-satunya cinta yang mengantar kami menutup mata. Maka ya Allah, jadikan rindu kami kepada Rasul-Mu menjadi satu-satunya rindu yang menggelora dalam jiwa sampai diputuskan nyawa. Maka ya Allah, dengan penuh harap dan cinta, kabulkan lah... " (h. 231)
Readmore → The Secret for Muslim
 

Yuk Baca Buku Islam Template by Ipietoon Cute Blog Design